Feeds:
Posts
Comments

Image

Sudah pernah ke http://www.cycletoworkcalculator.com ?

Aplikasi kalkulatornya keren. Bisa menghitung berapa penghematan uang dan manfaat lain yang didapat dari pergi ke tempat kerja dengan bersepeda. Poin yang saya bulatkan dengan warna merah di gambar itu bisa di klik dan berubah. Sayangnya, mata uang Rupiah tidak ada, jadi kita sendiri yang harus hitung lagi ke dalam rupiah hasilnya.

Silakan coba. Selamat menabung.

Markipulpada (Mari kita pulang pakai sepeda):D

Salam,

lutfi

All About “Ah”

Ah … ah … ah …

Pagi-pagi jalan macet parah
Yang satu marah-marah
Yang kedua sumpah serapah
Yang ketiga bawanya tidak jelas arah
Yang keempat mukanya memerah

Naik mobil ber-AC atau naik sepeda tapi badan gerah
Tinggal pilih mau yang mahal apa yang murah
Pokoknya Ter … se … rah
Yang penting jangan lupa sedekah

Eh di jalan ketemu si Indah
Naik sepeda mukanya basah
Senyumnya manis di pagi yang cerah
Bikin pengendara lain jadi sumringah

Oalah
Saya jadi menelan ludah ahahahah

Bike to Work aja yuk ah … ah … ah …😀

Salam,
lutfi

Menyusuri Jalur BKT

Minggu pagi masih terasa hangat sinar mataharinya. Jalan juga masih cukup lengang tidak seperti hari kerja yang padat dengan asap knalpot. Setiap tarikan nafas terasa nikmat. Subhanallah! nikmatMu sungguh berlimpah, ya Allah!

Jalur Banjir Kanal Timur (BKT) sudah hampir rampung. Mumpung masih belum digunakan secara resmi, saya melintasi jalur BKT ini menuju rumah bapak ibu mertua saya di Buaran Klender.


Saya sengaja memilih jalur BKT ini karena belum pernah melintasinya selama ini. Kesempatan nih! mumpung sedang pakai sepeda onthel sekaligus test ride pertama kalinya beronthel ria dengan jarak lebih kurang PP 40 KM-an. Lumayan cukup jauh.

Salah satu yang menarik dari jalur ini adalah jalurnya berada di tepian sungai yang lebar dan dalam. Di sepanjang jalur BKT ini saya sejenak menikmati udara Minggu pagi sembari ngonthel.
Ini perjalanan jauh pertama saya pakai sepeda onthel, sekaligus ingin merasakan kenyamanan dan kenikmatan bersepeda onthel. Terasa berat dikayuhan awal, tapi ringan saat sudah menggelinding. Posisi badan juga cukup tegak dan rileks. Terasa cukup berat sepedanya dibanding sepeda jaman sekarang, jadinya memang harus dibuat sesantai mungkin genjotnya. Mungkin itulah nikmatnya pakai sepeda onthel ya. Harus santai hehehe.

Di perjalanan, saya berhenti sebentar. Biasa, motret objek-objek yang menarik buat saya. Beberapa yang saya foto adalah model halte yang unik dan menarik bernuansa taman. Halte ini juga dilengkapi dengan sebuah gambar permainan ‘dingkringan’ di pelatarannya, seperti permainan tradisional anak-anak jaman saya kecil dulu. Alat pelemparnya ke kotak yang dituju adalah memakai potongan eternit bekas atau potongan genteng. Setelah itu, dingkring angkat satu kaki dan mulai melompat. Seru sekali.

Konon, saya pernah baca berita, kabarnya di sepanjang jalur BKT ini akan dibangun jalur sepeda. Entahlah, jadi dibangun apa tidak. Saya melihat, di jalur BKT ini tidak saya temui tanda-tanda akan dibangunnya jalur sepeda. Cukup enak sebenarnya kalau jadi dibangun. Jalur sepeda di tepian sungai, seperti yang pernah saya lihat di Belanda. Integrasi jalur sepeda dan jalur sungai kok cantik sekali yah. Bersih dan tertata rapi. Apalagi kalau sungainya juga difungsikan untuk transportasi air, wah keren! . Sungai, yang seharusnya menjadi bagian dari pemandangan kota, seharusnya bukan malah menjadi tempat buang sampah dan hajat. Haduh! kalau banjir, dampaknya akan berbalik ke kita juga, kan?

Hampir satu setengah jam saya ngonthel. Alhamdulillah, selamat dan lancar sampai di rumah bapak ibu saya. Mereka kaget, saya nongol pakai sepeda onthel hehehe …

Salam,
lutfi

Baru Ngonthel

Baru kali ini saya kelilingan naik sepeda tua atau lebih dikenal dengan sebutan sepeda onthel. Sekilas tentang sejarah sepeda onthel bisa dibaca disini. Menarik untuk menambah pengetahuan bersama.

Meski cukup berat dibanding sepeda Federal dan sepeda lipat saya, sepeda ini enak sekali untuk dibawa mengayuh santai. Posisi duduk agak tegak, sehingga tidak bikin perut tertekan saat mengayuh. Beda kalau saya naik sepeda yang lain. Agak bungkuk dan perut cenderung tertekan. Maklum, perut saya mulai gendut nih hahaha …

Sepeda ini tidak pakai persneling (operan gigi), cukup single speed saja. Meski ada juga yang pakai persneling, tapi karena saya sukanya single speed, jadi ini pas dengan kesukaan saya pakai sepeda single speed yang nggak perlu pakai pindah-pindah gigi. Pokoknya, tinggal gowes saja.  Langsung gelinding hehehe …

Ceritanya, sepulang kantor saat lagi hujan-hujanan, tiba-tiba terlihat penampakan sepeda ini yang tergantung di garasi tetangga rumah saya. Sepeda ini memang sudah tidak dipakai lagi oleh si empunya karena katanya sudah malas sepedaan. Wah! mau gimana kalau sudah malas , tho?. Akhirnya, saya bilang saja, kalau memang sudah malas, ya sudah saya rawat saja (saya bayari maksudnya:)) daripada digantung saja dan tidak dipakai.

Tawar menawar akhirnya terjadi. Cukup alot untuk mendapatkan harga yang pas-pasan untuk kantong saya. Maklum, sepeda ini buat saya unik dan keren, tapi kalau harganya mahal untuk saya, ya saya cari yang lebih murahan saja hehehe.

Saya ngobrol panjang lebar dengan si empunya tentang keinginan saya untuk ‘meminang’ sepeda onthel jenis dames ini. Dari berbagai sumber yang saya baca, istilah Dames ini untuk jenis sepeda perempuan sebenarnya. Sementara untuk jenis laki disebut Heren. Tapi saya cuek saja untuk jenis sepeda ini, sing penting enak digenjot dan nyaman buat saya.

Konon, sepeda ini juga sudah sempat ditawar oleh beberapa peminat, tapi karena belum cocok harganya, jadinya lewat begitu saja. Bahkan ada penawar mau menawar harga tinggi juga dari harga tawar saya. Tapi, memang rejeki Allah SWT tak akan lari pada hambaNya, saya senang saja, ketika saya bermaksud menawar sambil siap-siap kalau ditolak,  dan ternyata si empunya ini memberi harga yang terjangkau untuk kantong saya yang pas-pasan ini. Harga tetangga pastinya hehehe. Akhirnya, sepeda onthel nan cantik disain bodinya merk Humber buatan Inggris ini jatuh kepangkuan saya tepatnya tanggal 11-11-11. Tanggal Sebelas bulan sebelas tahun 2011. Cantik kan tanggalnya:D

Senangnya bukan main. Maklum, melihat sepeda onthel yang sepertinya sudah seumuran usia orang tua saya saat merantau ke Jakarta, yaitu sekitar 50 tahunan, menjadi keunikan tersendiri bagi saya dan keluarga. Setelah memiliki dan menikmati beberapa kali mengayuh si Humber ini, saya jadi ingin tahu cerita sejarah tentang sepeda onthel Humber ini.

Konon, jenis sepeda Humber lainnya, dulunya disukai para bangsawan kerajaan pada jamannya. Apa keistimewaannya sehingga banyak dipakai raja dan ratu?, entahlah. Saya sendiri juga belum tahu. Pantas saja, sampai-sampai Thomas Humber sang perancang Humber memberikan slogan ‘The Aristocrat of Bicycles’ untuk sepeda rancangannya. Meski dulunya pernah dipakai para bangsawan, tapi boleh dong, kalau rakyat biasa kayak saya ini juga boleh memiliki sepeda Humber. Namanya juga suka hehehe …

Selamat Tahun Baru 2012!

Salam,

lutfi

Kasih Sayang Ibu

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia

———————————————

Siapakah pencipta lagu ‘Kasih Ibu’? beliau adalah Pak Mochtar. Silakan baca profilnya disini.

Dukungan, semangat, motivasi, dan kasih sayang seorang ibu kepada kita selama ini adalah sebuah karunia Allah SWT yang begitu besar.

Semoga ibu kita sehat dan bahagia selalu atas segala pencapaian kita selama ini …

Salam,

lutfi

Foto ilustrasi: dokumentasi pribadi

Spirit Carries On

20 menit bersepeda pagi ini ke kantor cukup membuat segar dan nyaman lagi badan saya setelah terasa lesu sebelumnya. Tapi saya niatkan saja hari ini tetap bersepeda ke kantor.

Ada semangat yang menyemangati tentunya. salah satu penyemangat itu adalah saya tidak mau kena macet. Melelahkan bathin juga. Kedua, adalah saya teringat dengan bapak penjual dagangan yang sempat saya foto. Si bapak semangat sekali mengayuh sepedanya sembari membawa beban bawaan dagangannya yang terlihat cukup berat. Saya pun belum tentu bisa kuat mengayuh kalau harus membawa beban seberat itu. Tapi bapak itu tetap semangat dan tetap terlihat ceria yang terpancar dari wajahnya. Ini yang membuat saya jadi semangat lagi setelah terserang badan lesu.

Cuaca hari ini juga cerah, jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja tanpa bersepeda. Menikmati keindahan karunia pagi dari Allah SWT adalah sebuah kenikmatan dan penyemangat sebelum bekerja. Ditambah lagi dengan bersepeda, waaah uasiiik tenan!

Semoga om tante juga semangat hari ini dengan bersepeda ke tempat kerja.

Spirit carries on … kata Dream Theater mah:D

Salam,
lutfi

Hujan-Hujanan!

Pulang kantor tiba-tiba turun hujan tentu harus kita siasati. Caranya bisa bermacam-macam. Turunnya hujan juga adalah sebuah karunia sekaligus peringatan dan pelajaran buat makhlukNya. Ini mungkin hanya bagaimana cara kita menyikapi dan mengambil hikmahnya.

Saya lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 17.30,langit di luar kantor sudah mulai gelap. Tadinya saya sempat ragu, jalan atau tunda dulu untuk pulang ke rumah. Tapi karena saya sudah punya janji dengan istri dan anak-anak untuk tiba di rumah sebelum magrib, jadinya saya putuskan pulang saja sembari kuyup-kuyupan. Asiiik pastinya:D

Saya memang sudah siapkan perlengkapan ‘tempur’ saya. Jaket hujan, sepatu buaya anti air, dan tas kresek untuk membungkus tas ransel saya yang saya taruh di keranjang sepeda saya. Sudah masuk keranjang, langsung saya ikat biar tas nggak digondol orang. Lah, lagi asik nggowes tiba-tiba sampai rumah tas sudah raib, apa ndak shock tuh hahaha …

Hmmm … rasanya sudah siap gowes pulang, saya mulai mengayuh perlahan-lahan keluar halaman kantor. Maklum, jalan licin khawatir slip ban sepeda saya.

Keluar gerbang kantor, Masya Allah! jalanan sudah banjir. Terjang saja ah, pikir saya. Toh banjirnya masih dibawah pedal saya. Wuiiih … asiiik juga. Meluncur dalam aliran air hujan. Roda sepeda saya membelah aliran deras banjirnya. Inilah Jakarta, baru sebentar hujan, banjir dimana-mana. Duh, drainase Jakarta. Ampyuuun dah! Sempat melihat, beberapa pot rumah ikut rubuh. Sepertinya tadi ada angin kencang. Sayang, saya tidak sempat memotretnya.

Sedikit melayang ke masa kecil, betapa senangnya saat saya hujan-hujanan bersama teman-teman satu kelas sembari mengayuh sepeda sepulang dari sekolah. Menyenangkan sekali sekaligus menakutkan karena sampai di rumah, siap-siap kena omelan ibu saya hahaha …. Yeaaah! buat saya, ini sebuah kenikmatan berkendara dalam guyuran hujan. Dulu pulang dari sekolah, sekarang pulang dari kantor. Rasanya tetap asik dan seru. Bedanya, dulu masih anak-anak sekarang jadi bapaknya anak-anak hahaha. Pokoke sing penting, perlengkapan tempur harus siap. Makanya, sepeda saya lengkapi juga dengan keranjang biar bisa bawa perlengkapan tempur menghadapi guyuran hujan plus tas kresek besar untuk membungkus tas ransel saya. Untungnya, saya nggak pernah bawa laptop, jadi tas bisa saya masukan ke dalam keranjang. Praktis, murah, dan tidak memberatkan punggung!

Hujan masih cukup lebat, Alhamdulillah sampai juga di rumah. Kuyup tapi senang saja. Disambut Istri dan anak-anak plus segelas teh manis hangat buatan sang istri.  Mereka tertawa ceria, melihat saya kuyup nggak karu-karuan hehehe …

Om tante, hujan-hujanan juga kah tadi?

Salam,
lutfi