Baru kali ini saya kelilingan naik sepeda tua atau lebih dikenal dengan sebutan sepeda onthel. Sekilas tentang sejarah sepeda onthel bisa dibaca disini. Menarik untuk menambah pengetahuan bersama.
Meski cukup berat dibanding sepeda Federal dan sepeda lipat saya, sepeda ini enak sekali untuk dibawa mengayuh santai. Posisi duduk agak tegak, sehingga tidak bikin perut tertekan saat mengayuh. Beda kalau saya naik sepeda yang lain. Agak bungkuk dan perut cenderung tertekan. Maklum, perut saya mulai gendut nih hahaha …
Sepeda ini tidak pakai persneling (operan gigi), cukup single speed saja. Meski ada juga yang pakai persneling, tapi karena saya sukanya single speed, jadi ini pas dengan kesukaan saya pakai sepeda single speed yang nggak perlu pakai pindah-pindah gigi. Pokoknya, tinggal gowes saja. Langsung gelinding hehehe …
Ceritanya, sepulang kantor saat lagi hujan-hujanan, tiba-tiba terlihat penampakan sepeda ini yang tergantung di garasi tetangga rumah saya. Sepeda ini memang sudah tidak dipakai lagi oleh si empunya karena katanya sudah malas sepedaan. Wah! mau gimana kalau sudah malas , tho?. Akhirnya, saya bilang saja, kalau memang sudah malas, ya sudah saya rawat saja (saya bayari maksudnya:)) daripada digantung saja dan tidak dipakai.
Tawar menawar akhirnya terjadi. Cukup alot untuk mendapatkan harga yang pas-pasan untuk kantong saya. Maklum, sepeda ini buat saya unik dan keren, tapi kalau harganya mahal untuk saya, ya saya cari yang lebih murahan saja hehehe.
Saya ngobrol panjang lebar dengan si empunya tentang keinginan saya untuk ‘meminang’ sepeda onthel jenis dames ini. Dari berbagai sumber yang saya baca, istilah Dames ini untuk jenis sepeda perempuan sebenarnya. Sementara untuk jenis laki disebut Heren. Tapi saya cuek saja untuk jenis sepeda ini, sing penting enak digenjot dan nyaman buat saya.
Konon, sepeda ini juga sudah sempat ditawar oleh beberapa peminat, tapi karena belum cocok harganya, jadinya lewat begitu saja. Bahkan ada penawar mau menawar harga tinggi juga dari harga tawar saya. Tapi, memang rejeki Allah SWT tak akan lari pada hambaNya, saya senang saja, ketika saya bermaksud menawar sambil siap-siap kalau ditolak, dan ternyata si empunya ini memberi harga yang terjangkau untuk kantong saya yang pas-pasan ini. Harga tetangga pastinya hehehe. Akhirnya, sepeda onthel nan cantik disain bodinya merk Humber buatan Inggris ini jatuh kepangkuan saya tepatnya tanggal 11-11-11. Tanggal Sebelas bulan sebelas tahun 2011. Cantik kan tanggalnya:D
Senangnya bukan main. Maklum, melihat sepeda onthel yang sepertinya sudah seumuran usia orang tua saya saat merantau ke Jakarta, yaitu sekitar 50 tahunan, menjadi keunikan tersendiri bagi saya dan keluarga. Setelah memiliki dan menikmati beberapa kali mengayuh si Humber ini, saya jadi ingin tahu cerita sejarah tentang sepeda onthel Humber ini.
Konon, jenis sepeda Humber lainnya, dulunya disukai para bangsawan kerajaan pada jamannya. Apa keistimewaannya sehingga banyak dipakai raja dan ratu?, entahlah. Saya sendiri juga belum tahu. Pantas saja, sampai-sampai Thomas Humber sang perancang Humber memberikan slogan ‘The Aristocrat of Bicycles’ untuk sepeda rancangannya. Meski dulunya pernah dipakai para bangsawan, tapi boleh dong, kalau rakyat biasa kayak saya ini juga boleh memiliki sepeda Humber. Namanya juga suka hehehe …
Selamat Tahun Baru 2012!
Salam,
lutfi

