Feeds:
Tulisan
Komentar

Mungkin nggak sich jalur sepeda dibangun di Jakarta yang super duper macet dan sudah dijubelin dengan kendaraan bermotor ini? Kalo mungkin apa alasannya?

Salam,
lutfi

Bike to YES Nite

YES Nite

YES Nite

Suka musiknya YES? salah satu band progresif rock dari Inggris yang salah satu lagunya adalah ‘Owner a Lonely Heart’ dan ‘Changes’ yang ngetop dan asik buat ngangguk-nganggukin kepala kekeke.

Tapi bukan Yes-nya yang mau saya tulis. Saya cuma ingin bilang, asik banget nonton musik progresif rock pakai sepeda semalam (23 April 2009). And You and I, Starship Trooper, Machine Messiah, Close to The Edge, Long Distance Around, The Meeting, Steve Howe guitar solo, Roundabout, Owner A Lonely Heart, Changes dibawakan dengan dahsyat dan sangat mirip oleh Parallels Band. Salut!!!

Lebih edyaaan lagi, kawan saya yang prog markoprog, om Gatot Widayanto sedikit kasih kejutan buat hadirin. Beliau ngeMC sambil pake seli. Yesss!!! musik prog memang harus dikasih sentuhan unsur prog lainnya dong biar prog pol, iya ndak? hahaha…

Ngomong-ngomong, ngantor pake sepeda termasuk keputusan progresif bukan sih?

Salam,
lutfi

*Homeworld from The Ladder YES Album mode on*

Tanggalan hari Bumi saya:)

Tanggalan Hari Bumi saya:)

Hari ini, bumi yang kita tempati, kita pijak, kita tinggali untuk sementara waktu mencari kehidupan untuk kehidupan selanjutnya yang lebih abadi berulang tahun. Sepertinya tidak (belum) banyak yang tahu bahwa ini adalah hari dimana bumi diperingati kelahirannya.

Sembari menulis tulisan ini, saya iseng lirik kalender di sebelah komputer saya. Ternyata, saya tidak temukan sama sekali keterangan tanggal hari Bumi sebagai hari spesial untuk kita penghuni bumi. Saya beringsut lagi dari cubicle workstation saya untuk sekedar melihat kalender teman saya lainnya. Ternyata, juga tidak saya temukan informasi bahwa tanggal 22 April ini sebagai hari Bumi. Berbeda dengan hari-hari besar nasional yang sudah ditandai dengan warna merah angkanya dan diperingati dengan suka cita. Padahal, peringatan hari Bumi adalah merupakan peringatan buat kita semua yang menghuni bumi ini tentang nasib bumi yang sudah mengandung beban-beban yang sedemikian beratnya.  

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dengan memperingati hari Bumi ini dan mengurangi beban yang ditanggung bumi ini, kawan? Bukankah seorang yang berultah saja biasanya akan mendapat banjir ucapan selamat atau kado sebagai wujud perhatian orang lain kepada kita yang sedang berultah tersebut? Tapi bagaimana dengan bumi yang kita tempati ini? apa cukup dengan ucapan saja, atau lebih dari itu berupa sebuah perbuatan atau aksi nyata? atau menguap begitu saja dari pikiran kita? 

Kita pun juga tahu, bahwa bencana global warming sedang terjadi saat ini di muka bumi. Sebagai bagian dari umat manusia yang ditakdirkan terlahir di bumi ini bukan di Mars:), setiap kita sudah diberi tanggung jawab sebagai pemelihara, pengelola, penyayang bumi ini oleh Sang Maha Kuasa Pemilik Bumi ini. Sayangnya, bukannya sebagai pemelihara, pengelola, dan penyayang yang terjadi, justru kita malah menjadi perusak dan penghancur bumi ini, iya nggak sih? Terjadinya bencana alam yang diakibatkan oleh perbuatan manusia sebagai penghuni bumi adalah contoh terbaik untuk kita semua.Tanggung jawab kita sebagai manusia di bumi suatu saat pasti akan berakhir. Dan fase perjalanan hidup kita akan menuju ke kehidupan selanjutnya yang abadi. Pada saat itulah kita akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Maha Pencipta tentang apa-apa yang sudah kita lakukan selama ini di muka bumi dan yang kita lakukan terhadap bumi yang kita tempati ini.

Alhamdulillah, di Hari Bumi ini, saya masih diberi kesempatan melakukan ‘ritual’ rutin bike to work hingga hari ini untuk menjemput rejekiNya dan diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan di muka bumi ini oleh Sang Pemilik Bumi dan alam semesta beserta isinya ini. Setidaknya, dengan ritual bike to work ini yang tidak cuma pergi pulang kerja dengan bersepeda, kita sudah turut serta mengurangi beban-beban pengrusakan yang diterima oleh udara yang menyelimuti bumi ini juga bukan?

Jadi, jangan ngaku jadi manusia kalo kerjaannya di muka bumi bisanya cuma ngrusak bumi hahaha

Selamat Hari Bumi, 22 April 2009 untuk kawan-kawan semua yang menghuni bumi ini juga

Kalo Anda, memperingatinya dengan cara bagaimana?

Salam,
lutfi

Berat memang gowes di jalan menanjak. Apalagi kalo panjang jalannya super duper sampai puluhan kilometer. Ampyuuun deh. Kalo terpaksa sih, apa boleh buat. Tapi berhubung mau menikmati liburan panjang Minggu lalu (9 – 12 April 200), saya dan sahabat saya, Indra ‘Mustaine’ (hahaha dia memang ngefans sama Dave Mustaine sang vokalis gitaris band Megadeth) gowes ke Puncak Bogor hari Jum’atnya (10 April 2009). Lokasi finish kita pilih di masjid At Taawun, Bogor Puncak karena kami berniat sholat Jum’at disana. Pasti seru, asik, dan tentu saja suasana hijau royo-royo hamparan indah kebun teh dengan bonus udara sejuk hawa puncak bakal kita nikmati.

Brrrrr…

Jam 6 pagi kami bertemu di stasiun Tebet karena kami menumpang KRL AC ekonomi jurusan Bogor. Waaah…eeenak banget nih KRL. Salut untuk PT. KAI pokoknya yang sudah melayani penumpangnya dengan pelayanan KRL AC ini yang nyaman dan cukup bersih interiornya. Sayangnya, KRL ini belum dilengkapi dengan rak parkir sepeda untuk bike commuting. Untungnya, penumpang masih sedikit, jadi kami bisa selonjoran kaki bareng sepeda lipat (seli) kami masing-masing. Dengan harga karcis Rp. 5500 yang relatif murah plus AC, jelas asik-asik aja menurut saya.

Jam 7.30-an kami tiba di stasiun Bogor. Kebetulan, kami juga janjian dengan teman-teman ROGAD (Rombongan Gado-gado, yaitu Iyunk dkk) yang bersiap gowes ke masjid At Taawun juga. Kami bertemu di kawasan sekitar Kebun Raya Bogor. Setelah briefing sebentar, kami berombongan gowes menuju Puncak.

Masuk kawasan Ciawi Gadog, saya dan Indra mulai dihadang tanjakan panjang. Dalam hati, mau sholat Jum’at aja kok segini beratnya yah perjalanannya hahaha. Well, kami coba tetap bertahan terus sembari mengatur ritme gowes. Ah, “dibalik tanjakan pasti ada turunan”. Sekedar ungkapan untuk menghibur diri saja yang lagi ngos-ngosan nanjak kekeke. Itu urusan nanjak di perjalanan. Lah, dalam perjalanan hidup kita saja sebagai seorang hamba Allah Penguasa Alam Semesta beserta isinya ini, juga sudah disampaikan dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah, bahwa bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Nggak mungkin kita susah terus kan, pasti ketemu jalan kemudahan. Caranya? dengan ikhtiar terus, sabar, dan berdo’a . Iya tho? Jadi, buat saya yang lagi ngos-ngosan nanjak ini, biar nanjak itu sulit banget tapi pasti ketemu turunan nanti. Eh benar!!! ketemu turunan wah senangnya bukan main. Plooong meluncurnya hahaha!!!

Di tanjakan Ciawi, kok Indra nggak nongol-nongol nih dari tadi. Telpon ke handphonenya, waduuuh…dia malah lagi jajan bubur ayam pinggir jalan. Kram perut katanya. Saya yang sudah duluan gowes nanjak, malah dicuekin. Akhirnya saya tunggu dia nanjak menyusul saya. Kami pun meneruskan perjalanan lagi. Beginilah kalo nggak terbiasa nanjak, malah perut kena tonjok sakit kram.

bantu dorong ditanjakan

bantu dorong ditanjakan

Di tengah perjalanan, Indra mulai ngos-ngosan dengan sepeda lipet ban 16″ yang cuma tiga speed itu. Wah, kayaknya kalo diterusin gowes pun bisa-bisa nggak dapat waktu sholatnya nih. Nggak mikir ngalor ngidul, langsung stop angkot aja barengan dengan dua teman ROGAD yang kebetulan juga mau ngangkot aja kesananya.

Hampir sejam perjalanan ngangkot, jalanan mulai macet. Edyaaan!!! nggak di Jakarta, nggak di puncak, macet dimana-mana. Karena pas liburan kali jadi begini. Karena pak supir sangat cekatan driving-nya, jadi masih bisa ngejar waktu sholat Jum’atnya.

Sampai di masjid At Taawun, Subhanallah!!! rame banget nih masjid. Pengunjung mbludak luber sampai ke area parkir. Benar-benar masjid yang makmur jamaah. Apalagi, masjid ini juga mendeklarasikan dirinya sebagai objek wisata religi di kawasan Puncak. Sudah tepat positioningnya. Wisata puncaknya dapat, ibadahnya juga dapat. Jadi, nggak salah dong kalo kami menamakan perjalanan ini sebagai ‘Wisata Religi Berseli’ hahaha. Asik kan!!!

Masjid At-Taawun, Puncak

Masjid At-Taawun, Puncak

Pengunjung Masjid At-Taawun membludak

Pengunjung Masjid At-Taawun membludak

Selesai sholat, kami nggak bisa lama-lama.  Nah, ini dia balasannya dari ujian tanjakan campur ngangkot tadi. Sekarang acaranya ‘meluncur bersama seli’ ke Bogor. Kami juga ketambahan teman, yaitu Dado yang juga berseli. Asiiik!!! makin seru acara meluncurnya nih.

Wuuuuuzzzzz…wuzzz…wuzzz….asiiik!!!. Gowes turun naik datar belok. Pokoknya progressive pol kontur jalannya hahaha. Lagi-lagi macet arah balik ke Jakarta benar-benar parah. Tapi, namanya sepeda, selap selip itu wajib asal sopan dan santun di jalan. Sambil meluncur, kami bertiga melesat bablas meninggalkan satu persatu kendaraan yang merayap. Puncak juga sedang panas-panasnya. Tapi apa boleh buat, meluncur must go on sambil berpanas ria hahaha. Di turunan, kita tetap harus sangat hati-hati juga. Nggak cuma meluncur dengan less pedalling, tapi juga kontrol pengereman (braking) juga wajib. Di turunan super panjang ini, saya banyak menggunakan rem belakang untuk mengontrol laju kecepatan sepeda. Karena kalo menggunakan rem depan saat diturunan, bisa-bisa saya kejungkal nggak karu-karuan hahaha. Apalagi saya pakai seli, jadi kalo sampai gubrak nyosor di turunan!!!, wah bisa patah dua belas hahaha.

Si Seli mejeng berlatar panorama pegunungan

Si Seli mejeng berlatar panorama pegunungan

 

Sholat Ashar di Masjid Raya Bogor

Sholat Ashar di Masjid Raya Bogor

Habis meluncur sampailah di Bogor, ngadem dulu di masjid Raya Bogor untuk sholat Ashar sambil leyeh-leyeh terus isi perut plus belanja oleh-oleh buat anak istri. Nggak lama puter-puter Bogor, langsung menuju stasiun Bogor dan pesan tiket KRL AC ekonomi lagi. Wah, kereta balik ternyata lagi penuh-penuhnya. Untung seli-seli kita nggak makan tempat banget dan malah bikin penumpang lain terutama ibu-ibu jadi terheran-heran. Dikiranya bawa kursi roda kita hahaha. Dalam perjalanan pulang, Indra, Dado satu persatu turun di stasiun masing-masing. Tinggal saya sendiri yang akan turun di stasiun Manggarai.

Dalam KRL menuju stasiun Manggarai:
“Wah enak ya jalan-jalan pakai sepeda”, kata seorang ibu muda A di depan saya.
“Bikin sehat, irit ongkos, apalagi badannya si mas aja juga beda” kata ibu muda B disebelahnya sambil cengar cengir mesem malu. Lho?
Si ibu muda A langsung nyeletuk ke si ibu muda B, “Eh, hati-hati lo, inget tuh suami lo di rumah”

Wah, jadi malu saya ‘dikerjain’ ibu-ibu itu.  Glek!

salam,
lutfi

Ya!

Mulailah di hari Jum’at jika mau mulai bersepeda ke kantor. Kok Jum’at? karena Jum’at kan biasanya hari terakhir ngantor dalam seminggu bekerja. Meski ada juga teman yang ngantor hari Sabtu atau Minggu.

Dulu, pertama kali coba ngantor pakai sepeda, saya mulai di hari Jum’at. Jadi, Sabtu dan Minggu saya pakai untuk beristirahat jika merasa lelah atau rasa pegal karena baru pertama kali ngantor pakai sepeda. Gimana nggak capek coba, biasa pakai motor, ujug-ujug kok pakai sepeda. Nekat apa saya hahahaha…tapi seru, pasti itu!. Kalo capek, motor mobil sepeda jalan kaki ngangkot sama sama bikin capek juga kan. Nah, buat pekerja yang suka tantangan dan nggak mau monoton kerjanya, ngantor pakai sepeda salah satu penyalurannya menurut saya kekeke.

Setelah hari pertama berhasil ngantor pakai sepeda, besoknya mulai ketagihan enaknya ngantor pakai sepeda? hitung mundur aja hari bersepedanya. Jum’at, Kamis, Rabu, Selasa, Senin. Atau Nggak harus setiap hari juga nggak apa-apa. Seenak dengkul masing-masing kekeke. Mau Jum’at aja silakan, mau Jum’at Kamis aja silakan, mau Jum’at Rabu aja silakan, Mau Jum’at Selasa silakan, mau Jum’at Senin aja silakan, atau kombinasi hari lain silakan juga. Bebas. Wong hukumnya nggak wajib kok kekeke.

Kata teman saya, konon Jum’at hari paling macetnya Jakarta meski tiap hari macet sudah biasa kita lihat. Jadi, buat yang pakai sepeda, selamat bebas dari hari paling macetnya Jakarta dengan bersepeda!

Kalo Anda gimana?

salam,
lutfi

Sepulang kantor semalam (31 Maret 2009) hujan habis turun deras banget dan beberapa ruas jalan juga macet.

Aaah…untung saya pakai sepeda semalam, jadi bablas aja dari antrian macet kendaraan.

Sampai rumah, mandi, lalu bermain dengan Alifa, putri saya. Hilang semua rasa capek. Kebetulan, hari ini saya baru aja membaca buku mungil tipis ukuran saku tapi judulnya dahsyat sekali menghujam qolbu menurut saya, yaitu “Malam Pertama di Alam Kubur” karya Dr. Aidh Al Qarni. Nggak tahu, kok tiba-tiba aja saya ditunjuki jalan untuk mau mengambil buku mungil itu. Padahal, di perpustakaan buku saya, banyak buku bagus yang belum sempat saya baca. Tapi, malam itu hati saya digiring untuk mengambil dan membaca buku itu.

Salah satu point yang baru saya tangkap dari buku tersebut adalah kita ini punya dua malam. Malam pertama, adalah malam-malam tidur kita bersama keluarga beserta dengan segala kenikmatannya yang sudah kita dapatkan selama ini. Malam kedua, adalah malam-malam kita di dalam kubur. Tidak bersama keluarga lagi tapi hanya ditemani amal shalih kita yang sudah kita kumpulkan selama hidup kita.  Sendiri bersama amal shalih.

Point dari isi buku mungil tersebut benar-benar jadi ’cambuk hati’ buat saya juga nih. Benar-benar merefresh pikiran dan bathin saya. Sekarang, apa yang kita ingat sebelum memejamkan mata hayooo? apakah kita dapat menjamin setelah mata kita terpejam, kita masih dapat menatap matahari esok pagi? menatap pasangan kita? menatap buah hati kita yang lucu? menatap mobil atau motor kita? atau menatap sepeda kita yang kita banggakan sebagai kendaraan ke tempat kerja? padahal tidak ada yang dapat menjamin selain Allah Pemilik Alam Semesta beserta isinya ini, apakah kita besok masih melek atau sudah tutup usia.

Yah! hampir saja saya dilupakan dengan mengingat kematian selama ini yang selalu mengiringi kemana kita berada dan saat bepergian, terutama dengan bersepeda. Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang diwafatkan dengan kematian khusnul khotimah yah. Amiin.

Jadi, Ingatlah mati, bukan seli (sepeda lipat) atau sepeda kita lainnya yah kalo mau memejamkan mata diatas kasur hehehe

Kalo Anda?

salam,
lutfi

KRL Ramah Sepeda

Hari Minggu ini (22 Maret 2009) saya senang sekali bisa menghadiri acara ultah ke-2 teman-teman Komunitas Bike to Work wilayah Depok atau lebih dikenal dengan sebutan Rodex (Rombongan Depok) di kampus UI Depok. Sudah lama saya nggak main ke dae campur rah Depok. Kebetulan saya memang pas nggak ada acara keluarga, jadi bisa datang ke acara tersebut. Asik nih bisa jalan-jalan ke Depok naik sepeda dan KRL lagi.

Jam 6 pagi saya dengan si Whitesnake gowes ke Stasiun Tebet yang berjarak sekitar 5 km-an dari rumah saya. Sembari menikmati suasana Minggu pagi, angin sejuk yang menerpa muka saya meski sudah bercampur asap knalpot kendaraan masih cukup terasa sepanjang jalan. Lumayanlah buat cari udara sejuk sih. 

Setengah jam kemudian saya tiba di stasiun Tebet. Sedikit atraksi melipat sepeda di depan umum, saya menuju loket karcis ekonomi yang seharga 1500 rupiah. Saya beli dua. Satu untuk saya, dan satunya lagi untuk si Whitesnake. Padahal sih bisa juga beli satu karcis. Cuma, saya males berdebat aja kalo sewaktu-waktu petugas karcis minta karcis tambahan untuk sepeda lipet saya. Saya juga kan kepengen pengguna sepeda juga dihargai di atas kereta. Nggak ada pengusiran maupun larangan membawa sepeda ke kereta. Toh, selama nggak mengganggu sirkulasi pejalan kaki dan penumpang kereta dan tidak melebihi kapasitas berat bawaan barang ke dalam kereta, harusnya nggak masalah kan yah KRL?. Senangnya, secuil sambutan ramah dari petugas karcis yang berpakaian safari. Sembari saya menyerahkan dua karcis saya, mereka mempersilahkan saya dengan ramah menuju kursi tunggu kereta. Saya acungi dua jempol nih buat petugas jaganya. Enakkan kalo petugas ramah dengan senyuman menyambut calon penumpang. Termasuk yang bawa sepeda kayak saya ini kekeke.

15 Menit menunggu KRL ekonomi, akhirnya datang juga nih kereta. Waaah…lumayan penuh juga penumpang pagi-pagi gini. Biasanya sih masih sedikit penumpangnya. Saya langsung tenteng si Whitesnake ke dalam KRL yang pintunya langsung terbuka dari kejauhan, lha wong itu pintu KRL memang sudah mati sistem otomatisnya hahaha. Di dalam saya cari tempat ke pinggir biar nggak menghalangi penumpang lainnya yang seliweran. Nah, disini, kita sebagai yang bawa sepeda harus hati-hati dan ngertiin bahwa sepeda kita bisa saja menyakiti orang lain. Yang kena stang lah, kepentok pedal, bikin susah orang yang lewat, kena kotoran ban di celana dll. Jadi, pastikan saja kalo sepeda kita nggak mengganggu penumpang lain maupun merusak properti kereta itu sendiri. Pokoknya, dahulukan saja pejalan kaki di kereta tanpa terganggu oleh kita yang membawa sepeda.

Setengah jam sampai juga di stasiun kampus UI Pondok Cina. Penumpang di depan pintu sudah cukup penuh. Sayangnya, penumpang kita memang lebih suka di depan pintu ketimbang masuk di dalam pintu yah. Saya dan penumpang lain yang mau turun jadi terhalangi. Padahal space di dalam masih cukup untuk mereka yang berdiri di depan pintu. Jelas ini sangat berbahaya buat mereka juga karena bisa saja mereka terlempar keluar gerbong atau terjatuh.

Sampai di peron stasiun, si Whitesnake saya buka lagi lipetannya dan saya tuntun keluar stasiun. Kebetulan, di gerbong yang lain juga turun teman saya yang membawa sepeda lipat dan sepeda gunung yang ingin ke acara yang sama.

****

Pulang dari acara, sekitar jam 12an saya dan rombongan teman bersepeda (dua sepeda gunung ukuran dewasa, empat sepeda lipat, dan satu sepeda gunung ukuran remaja) bersiap naik KRL AC Ekonomi Express jurusan Depok – Kota. Saya memang baru kali ini naik KRL AC. Dan enaknya lagi berhenti di tiap stasiun kata petugas stasiun. Saya juga sudah beli satu karcis seharga Rp. 5500. Dan membawa sepeda nggak dapat tambahan biaya lho.   

Nggak lama, kereta itu datang. Rombongan kami bersiap naik. Karena kami bertujuh jadi kami pecah naiknya menjadi tiga kelompok. Kenapa? karena kalo masuk di satu pintu saja, bisa kelamaan nunggu sementara waktu berhenti kereta nggak sampai satu menit. Apalagi, pintu otomatis kereta ini aktif beneran lho. Jadi buka tutupnya tertib. Beda dengan kereta pertama waktu saya berangkat. Sudah aktif terbuka dari awal stasiunnya hahaha. Ya iyalah, jelas beda dong. harga karcisnya aja beda kekeke. Moga-moga nantinya biar karcis beda tapi pelayanan tetap sama yah KRL.

Berhubung baru pertama kali naik KRL AC ini, jadi mata saya jelalatan. Saya perhatikan interiornya juga cukup bersih dan terawat. Saya juga nggak menemukan sampah berserakan, pedagang asongan wara-wiri, dan lampu gerbong yang mati. Satu lagi, AC nya terasa sepoi-sepoi di muka saya nih hahaha. Hmmm…dengan harga karcis ini, lumayan lah saya bisa nyaman didalam kereta. Sepeda saya juga masih dapat space di pinggir, tepatnya di depan pintu masuk keluar penumpang tapi di pintu yang tidak digunakan untuk naik turun penumpang. Kecuali di stasiun Pasar Minggu, saya sempat berpindah posisi karena pintu naik turunnya jadi di samping saya yang aktif. Setelah stasiun Pasar Minggu, saya pindah posisi lagi ke posisi semula. Untung aja, penumpang nggak penuh.

Sampai stasiun Kalibata Baru, rombongan selain saya turun dengan tertib dari masing-masing pintu. Sementara saya lanjut sampai stasiun Tebet.

Sampai stasiun Tebet, si Whitesnake saya buka lagi lipetannya dan meluncur lancar di siang bolong sampai rumah. Aaaahh…sampai rumah, sang istri tercinta sudah menyuguhkan segelas air es teh manis dari kulkas. Leeeerrr…manteb banget ditenggorokan kekeke… 

Alhamdulillah, senang sekali hari ini bisa bertemu teman di Depok sembari olahraga Minggu, ditawari makan gratis di acara ultah Rodex, naik KRL lancar, menikmati perjalanan hybrid commuting dengan sepeda dan KRL, ongkos perjalanan jauh Jakarta – Depok – Jakarta cukup Rp. 7500 saja.

Buat KRL, moga-moga suatu saat KRL bisa punya rak sepeda seperti dibawah ini yah. Lebih nyaman dan rapi penempatan tentunya untuk para komuter yang menggunakan sepeda juga.

Rak Parkir Sepeda di dalam Kereta

Rak Parkir Sepeda di dalam Kereta

Sumber foto: http://www.metrocouncil.org/Directions/transit/transit2008/BikesDec08.htm

Salam,
lutfi

Keserempet

Hari Minggu (8 maret 2009) saya janjian sama teman karena ada urusan kerjaan. Biasanya sih Minggu saya adalah hari olahraga pagi bareng si Whitesnake. Ya iya ding, masak olahraga siang-siang.

Minggu pagi itu saya sudah janjian sama teman untuk ketemuan di rusunnya (rumah susun maksudnya) yang ada di lantai 5. Kebayang nih, pasti bakal nenteng si Whitesnake naik sampai lantai 5.

Cari parkir? ah…nggak ah. Sayang si Whitesnake lecet-lecet kalo sampai kesenggol kendaraan lain. Mending saya lipet terus tenteng sampai lantai 5. Olahraga beban tangan kanan hahaha. Kan, tahu sendiri, parkiran kita tuh buat pengguna sepeda susah nyarinya. masak parkir sepeda disenderin di pagar, ndak berperisepedaan itu sih. Padahal, disuruh bayar parkir juga saya berani kok.

Helmet, tas selempang juga sudah siap semua. Cuma karena keburu-buru, botol minuman ketinggalan. Baru keingetan pas sudah di tengah jalan. Maksudnya bukan di tengah jalan, ketabrak dong ntar saya hahaha.

Cuaca memang lagi cukup cerah pagi ini. Enak nih buat narik nafas panjang pagi. Ada rasa dingin-dingin gitu di ujung hidung. Kendaraan juga nggak sebanyak kalo pas hari biasa. Nggak sumpek jalanan. Ngayuh pedal juga santai aja. Sayang kalo harus keburu-buru ngayuhnya. Mata juga bisa lirak lirik kalo ada pemandangan yang bagus dan patut dilihat.

Di setengah perjalanan, persis di depan saya ada metromini yang lagi memperlambat jalannya karena mau menurunkan penumpang. Pelan ah gowesnya. Soalnya saya takut banget kalo di belakang metromini. Takut kena asap cumi-cuminya itu. Hueeksss…pasti langsung saya lepeh dan nyingsring idung saya kalo sampai kemasukan asapnya kekeke.

Sambil ngayuh pelan, tiba-tiba aja ada seorang bapak usia sekitar 45 tahun kira-kira aja gitu deh nyelonong ambil jalan ke kiri tanpa klakson. Sementara saya juga ada di posisi paling kiri jalan. Sembari jalan, si bapak ini kok makin nempel ke saya bawa motornya. Stang motornya nempel ke tangan saya. Walaaah…hampir aja keseret saya. Aneh nih si bapak, pikir saya. Jalan segitu luasnya malah nempel ke saya. Emangnya saya ini apa ditempeli gitu. Kayak prangko aja hahaha.

Sempat kebawa emosi dan keluar makian ke si bapak ini. Tapi nggak pakai teriak kok, didalam hati aja. Si bapak jalan terus dengan muka lempeng nggak tengak tengok, sementara saya mau ngejar juga jelas kalah dong. Dia pakai gas, saya pakai dengkul. Maksudnya kalo kekejar mau saya ajak salaman dan saya ‘racuni’ otaknya biar pakai sepeda nantinya hahaha. Tapi dasar harus tahu diri, jadinya malas ngejar. Lagian, rugi dong pagi-pagi ngomel-ngomel nggak penting di jalan.

Si bapak ngeloyor terus nggak tengak tengok teriak apa kek ke saya yang abiz dizalimi barusan. Kan bisa aja bilang, “duh, maap ya mas nyenggol situ”. Atau “maap ya de, saya buru-buru nih”. Gampang kan bilang kayak gitu aja sih. Perkara selesai. Hati-hati lo pak, do’a orang yang dizalimi cepat terkabul lho hahaha. Untung, saya nggak sampai mendo’akan si bapak dengan yang macem-macem. Kasihan juga sih, kalo terjadi apa-apa sama dia gara-gara do’a saya, sementara dia punya anak istri yang lagi nunggu-nunggu di rumahnya.

Ah, mungkin juga karena saya tadi keluar rumah lupa baca do’a, jadinya saya dapat musibah keserempet tadi. “Terima kasih ya Allah, sudah menegur saya di jalan dengan musibah tadi”

salam,
lutfi

Tadi sore (5 Maret 2009), Alifa putri saya menelpon ke handphone saya minta dibelikan martabak manis kesukaannya. Duh, saya memang sudah janji akan membelikannya. Untung dia mengingatkan saya. Maklum, suka lupaan sama urusan makanan hahaha…

Jakarta kembali diguyur hujan lebat campur kilat dan awan hitam pekat sejak jam 4 sore. Sampai pukul 6 sore hujan masih terus mengguyur Jakarta meski sudah rintik-rintik di kawasan kantor saya. Saya pun bersepeda pulang ke rumah dengan si ‘Whitesnake’ menuju tempat beli martabak manisnya.

Biasanya sih saya lewat jalur pulang biasa. Tapi, kali ini saya ingin memutar jalur untuk cari suasana jalur lain biar nggak bosan aja. Saya pun memilih jalur Rasuna Said – Casablanca – Saharjo.

Masya Allah!!! memasuki jalur Rasuna Said, dua jalur yang berlawanan arah macet total. Stuck only!!!

Karena hujan jadi macet begini? ah…saya nggak mau menyalahkan hujan. Karena hujan turun adalah kuasa Allah Subhanahu wa’ Ta’ala.

Sambil menikmati rintik-rintik hujan di jalur Rasuna Said yang membasahi raincoat dan si Whitesnake, di depan saya ada seorang bapak bersepeda juga tapi dengan penampilan ala kadarnya. Bersendal jepit dan berjas hujan tipis. Sementara saya sudah lengkap dengan perangkat bersepeda. Dalam kondisi ruas ‘jalur sepeda’ kami yang hanya pas-pasan, saya mengiringi dari belakang si bapak saja. Saya tetap atur ritme kayuhan agar seirama dengan kayuhan santai si bapak tadi. Saya memang nggak ingin mendahuluinya. Sementara di sisi kanan kami, deretan mobil-mobil sudah PAMER PAHA (Padat Merayap TanPa Harapan) hahaha. Sementara kami berdua terus melaju dan melaju meninggalkan mereka yang terjebak macet.

Di pertengahan menuju jalan Casablanca, saya berpisah dengan si bapak tadi yang masih meneruskan perjalanan ke arah Mampang. Saya pun menyebrang jalan yang juga sudah padat kendaraan bermotor.

Melintasi pertemuan jalan Casablanca dan jalan Rasuna Said, para pekerja yang pulang kantor ramai menunggu kendaraan angkotnya sembari berpayung ria. Saya terus bablas bersepeda menuju jalan Saharjo.

Sampai di jalan Saharjo, lagi-lagi saya melihat barisan kemacetan lagi. 

Alhamdulillah, saya beruntung bisa pakai sepeda hari ini!” pikir saya dalam hati. Sembari memperlambat kayuhan, saya mencari celah jalan untuk menerabas kemacetan. Aha, dapat!!! langsung saya kayuhan percepat mumpung di depan saya nggak ada yang menghalangi.

Pyuuuhhh!!!
Sampai juga akhirnya di mobile kiosk (gerobak dorong) penjual martabak manis. Sambil membersihkan cipratan tanah campur air hujan di raincoat, saya langsung pesan satu martabak manis untuk Alifa putri saya.

Sambil menunggu martabak jadi, saya terus saja memperhatikan kemacetan yang masih terus terjadi di jalan yang mengarah ke Pancoran. Luar biasa sekali kemacetan yang saya lihat di tiga ruas jalan yang berbeda ini. Jalan Rasuna Said macet, jalan Casablanca macet, dan jalan Saharjo ini macet juga. Ini hanya karena hujan turun sore tadi yang nggak sampai jam-jaman lho. Gimana kalo turun sampai jam-jaman lalu banjir jalanan? pasti kemacetan bisa merembet ke ruas jalan lainnya. Dan itu kerugian buat pengguna jalan juga baik yang menggunakan kendaraan bermotor maupun tidak.

Yaaah…kembali lagi, kita mau pilih pakai apa berkendaraannya kan? jalan kaki, sepeda, angkot, kendaraan bermotor pribadi? 

Martabak pesanan saya sudah jadi. Saya cantolkan bungkusan kotak martabak manisnya di handlebar si Whitesnake yang dekil cipratan tanah ini karena tas saya sudah penuh pakaian ganti dll.

Sampai di rumah, saya bunyikan bel sepeda sebagai tanda kedatangan saya, Alifa langsung menyambut dengan semangat. Sebuah senyum manisnya melumerkan rasa lelah saya. “Terima kasih ya Allah, Engkau mengaruniai kami anak yang manis!”

Subhanallah, senang sekali bisa kumpul cepat dengan keluarga. Kebayang kan, kalo masih terjebak dalam kemacetan yang nggilani kayak tadi terus berulang dan ketemu lagi, waktu kumpul dengan keluarga jelas akan jadi berkurang. Beruntung sekali, saya masih bisa dapat waktu sholat magrib juga.

Buat saya, pokoknya pilihan pakai sepeda saat itu sudah tepat, bisa escape from traffic jam!!! hahaha.

Gimana dengan pilihan Anda sendiri?

Salam,
lutfi

Biasanya, tiap pagi mas Marno yang asal Solo, tukang jamu langganan ibu saya itu sudah kasih tanda bunyi bel sepeda di depan rumah menawarkan jamu dengan gaya khasnya yang lemah lembut sembari membawa gerobak jamunya.

Pagi ini, sebelum saya berangkat ngantor ada yang beda dari biasanya. Ternyata, dia beralih pakai sepeda sekarang hahaha. Tadinya ya itu, masih pakai gerobak dorongannya untuk berjualan. Wah, apa ini gara-gara kampanye bersepeda yang saat ini lagi gencar-gencarnya, terus mas Marno jadi ikut-ikutan pengen pakai sepeda? nggak tahu juga deh.

Kami pun ngobrol sebentar. “Pakai sepeda bisa lebih jauhan jualannya”, kata mas Marno sumringah. Sudah gitu, nggak capek kaki ini kalo dorong gerobak terus. Begitu kira-kira ucapannya sambil meringis di depan saya dan ibu saya.

Tuh kan, buat pedagang keliling, sepeda bisa bikin ekspansi jualannya jadi lebih jauh dan luas juga. Hemat tenaga juga. Bahkan, selain mas Marno pun saya suka lihat seorang penjual kopi, pedagang pisau, Pedagang kue, penjual es krim, pedagang mainan anak, pedagang siomay (ini sih tiap malam sering lewat depan rumah saya, ueenak siomaynya), berkeliling pakai bersepeda. Belum lagi pedagang koran yang juga banyak keliling di sekitar rumah pagi harinya. 

Ya..ya…ya. Saya jadi makin tahu kenapa mas Marno beralih pakai sepeda pagi ini. Jadi lengkap nih jualannya mas Marno.

Jamu kan identik dengan minuman yang menyehatkan, sementara sepeda identik dengan kendaraan yang menyehatkan.

Secara citra jualan minuman kesehatan, mas Marno sudah pas deh tuh jualannya. Jualan jamu pakai sepeda sehatnya bisa dobel. Insya Allah:).

Ternyata, mas Marno pintar bermarketing juga yah. Saya jadi belajar sama dia hahaha

Kalo Anda, punya sepeda dipakai untuk apa?

Salam,
lutfi

Tulisan Sebelumnya »